Sabtu, 19 Oktober 2013

Ketidakpastian dalam Pengukuran

Ketidakpastian dalam Pengukuran


http://matematikbest.blogspot.com/2011/01/apa-itu-ukuran.html

















Kegiatan pengukuran merupakan hal yang biasa dilakukan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dan sebagai makhluk sosial, pengukuran tersebut dilakukan sebagai salah satu bentuk interaksi dengan orang lain. Misalnya kita mau mengecat rumah. Dengan memperhitungkan luas permukaan yang dicat, kita akan menghubungkan antara hitungan yang kita buat dengan takaran cat yang tersedia.
Contoh lain, kita akan membuat meja. Setelah dihitung kita dapat memperkirakan jumlah kayu yang dibutuhkan. Lagi-lagi hal ini pun terkait dengan ukuran kayu yang tersedia.
Bisa bayangkan, jika pengukuran yang kita lakukan berbeda dengan bahan-bahan yang tersedia, maka dipastikan perhitungan kita akan meleset.

Terkait dengan kegiatan pengukuran yang akan kita lakukan, timbul pertanyaan :
1. Bagaimana cara melaporkan hasil pengukuran itu?
2. Apakah jaminan hasil pengukuran itu tidak salah?
3. Jika kurang tepat, berapa simpangannya?
4. Sampai berapa jauh, hasil itu dapat dipercaya?

Dalam fisika dikenal ada dua satuan, yaitu satuan yang baku dan tidak baku. Contoh satuan tidak baku adalah jengkal dan depa. Satuan seperti ini tentunya tidak dapat digunakan dengan baik. Sekali lagi, kegiatan pengukuran akan berguna jika bisa dikomunikasikan dengan orang lain. Meter adalah contoh satuan yang baku. Ketika kita menginginkan kayu sepanjang 3 meter, dan pengukuran itu diberikan pada tukang kayu. Dapat dipastikan kita akan mendapatkan kayu seperti yang kita inginkan. Meskipun, kita kadang sedikit mengeluhkan, karena ada selisih beberapa mili meter. It's no big matter, khan?
WOW, tapi belum tentu ya? Jika perbedaan sekian mili meter, membuat bangun yang kita buat menjadi tidak tepat siku 900.

Menjawab pertanyaan pertama, bagaimana cara melaporkan pengukuran tersebut? Dalam Satuan Internasional (SI), misalnya kita akan melaporkan hasil pengukuran panjang meja sebesar 1,20 cm. Dengan 1,20 menunjukkan hasil pengukuran dan m sebagai satuannya.

Yang menjadi masalah adalah ketika pengukuran diulangi ternyata, diperoleh hasil yang berbeda sedikit, misalnya 1,21 m. Ketika diulangi lagi malah menjadi 1,19 m. Ini belum lagi, jika yang melakukan pengukuran orang lain. Dapat dipastikan hasilnya juga berbeda. Perbedaan hasil ini menjadi dasar adanya ketidakpastian dalam pengukuran.

Apakah penyebab dari ketidakpastian dari pengukuran tersebut? Pertama, yang melakukan pengukuran adalah manusia yang tidak sempurna. Kedua, alat ukur yang digunakan juga buatan manusa, jadinya tidak sempurna juga.

Tapi kita tidak perlu khawatir atau "lebay", dengan menganggap melakukan pengukuran adalah percuma. Toh tidak tepat 100 persen. Padahal di sinilah seninya pengukuran dalam fisika, khususnya. Yang lebih penting dari itu sebenarnya, bagaimana agar pengukuran yang kita lakukan ada toleransi kesalahannya. Artinya ada simpangan yang masih dianggap wajar.
"Pengukuran kok masalah wajar dan tidak wajar?" seseorang dengan sengitnya memprotes, Hehehehe.....menimbang beras 5 kg, kalau diulangi ternyata menjadi 5,5 kg bahkan 6 kg tentunya tidak wajar bukan? Tetapi kalau diulangi menjadi 5,05 kg bahkan 5,000005 kg tentunya tidak kentara..(tapi ngawur kayaknya..timbangan macam apa yang bisa kayak gitu).

Lanjut, berikut ini adalah beberapa jenis ketidakpastian dalam pengukuran yang biasa dijumpai.
Ketidakpastian bersistem
1. Kesalahan kalibrasi
2. Kesalahan titik nol
3. Kelelahan komponen alat
4. Gesekan
5. Paralak
6. Keadaan saat bekerja

Ketidakpastian rambang
1. Gerak Brown molekul udara
2. Fluktuasi pada tegangan jarum listrik
3. Landasan yang bergetar
4. Bising
5. Radiasi latar-belakang

Sudah dulu ya, nanti dilanjutkan lagi agar lebih jelas lagi pembahasan masalah pengukuran.

Sumber bacaan : Djonoputro, B. Darmawan. 1984. Teori Ketidakpastian. Bandung : Penerbit ITB

Kamis, 10 Oktober 2013

Merindukan Kurikulum 2013

Merindukan Kurikulum 2013


Guru yang mengajar hanya dengan metode ceramah atau 
mengandalkan presentasi adalah guru yang dholim.

Kata-kata dari salah satu instruktur pada diklat PLPG beberapa waktu lalu terus menghantui pikiranku. Jujur saja selama ini, saya belum "ngeh", dengan adanya kurikulum 2013. Pertama, karena sekolah tempatku mengajar belum melaksanakan. Kedua, kurang pekanya diri saya terhadap perkembangan dunia pendidikan di Indonesia.

Tetapi, setelah mendengar kata-kata tersebut, sontak kesadaranku bangkit (moga-moga selamanya..hehehehe). Aku mengaca pada diriku sendiri, yang selama ini sudah merasa cukup dengan mengajar pakai gaya sendiri. Yang penting aku enjoy dan siswa bisa menikmati. 
Ternyata itu tidak cukup. Buktinya apa?

Kita bisa melihat output dari siswa kita, apakah sudah memiliki karakter yang baik. Disiplin, santun, jujur, obyektif, menghargai orang lain dan sebagainya. Inisiatif, kreatif, inovatif, dan nilai-nilai karakter lain sudahkah terbentuk?

Dulu ketika saya mengajar, satu hal yang sering kukatakan pada siswa. 
"Nak, mengajar fisika itu gampang. 
Tetapi, membuat kamu belajar tanpa diperintah itu yang sulit."
Selalu dan selalu itu yang kukatakan. 
Ternyata hal itu tidak cukup.

Perlu adanya aksi nyata dalam melaksanakan pembelajaran, salah satunya dengan mulai menerapkan kurikulum 2013. Perubahan-perubahan yang nampak pada standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses maupun standar penilaian perlulah dicermati sehingga target pelaksanaan kurikulum ini akan tercapai.

Kompetensi lulusan dari jenjang SD, SMP, SMA, SMK bisa kita lihat ternyata sama, yaitu adanya peningkatan dan keseimbangan  soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. 

Kedudukan mata pelajaran (ISI), yaitu kompetensi yang semula diturunkan dari mata pelajaran berubah menjadi mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi. Kompetensi dikembangkan melalui: Tematik terpadu dalam semua mata pelajaran (SD), mata pelajaran (SMP, SMA) dan vokasinal (SMK).

Dalam proses pembelajaran :
  • Standar Proses yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi  dilengkapi dengan mengamati, menanya, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta.
  • Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di  lingkungan sekolah  dan masyarakat 
  • Guru bukan satu-satunya sumber belajar.
  • Sikap tidak diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan
Dalam penilaian pembelajaran :
  • Penilaian berbasis kompetensi
  • Pergeseran dari penilaian melalui tes [mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja], menuju penilaian otentik [mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil]
  • Memperkuat PAP (Penilaian Acuan Patokan) yaitu pencapaian hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperolehnya terhadap skor ideal (maksimal)
  • Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga kompetensi inti dan SKL
  • Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama
    penilaian 
Dalam pelaksanaan pembelajaran digunakan pendekatan saintifik dan kontekstual melalu kegiatan : observing (mengamati), questioning (menanya),    associating (menalar), experimenting (mencoba), dan networking (Membentuk jejaring). Demikian juga dalam proses penilaian menggunakan penilain otentik, yaitu : penilaian berbasis portofolio, pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tunggal, memberi nilai bagi jawaban nyeleneh, menilai proses pengerjaannya bukan hanya hasilnya, penilaian spontanitas/ekspresif, dan lain-lain.


Model pembelajaran yang diterapkan mengacu pada teori konstruktivisme, yang memandang  bahwa  ilmu  pengetahuan  harus  dibangun  oleh    siswa. Dalam   hal   ini   siswalah  yang  membangun  dan   menemukan sendiri pengetahuannya. Model pembelajaran yang dimaksud meliputi  discovery learning (pembelajaran penemuan), problem based learning (pembelajaran berbasis masalah), dan project based learning (pembelajaran berbasis proyek).

Dengan menerapkan kurikulum 2013, diharapkan tidak terjadi lagi pembelajaran yang dholim lagi. Kesemuanya mengarah kepada kompetensi religiusitas sebagai kompetensi pertama dan tujuan dari pendidikan.



Selasa, 03 September 2013

PRAMUKA DAN ANTI KORUPSI

PRAMUKA DAN ANTI KORUPSI

Pada tanggal 31 Agustus 2013, penulis mendapat kesempatan untuk mengisi materi Persami bagi siswa baru SMP Negeri 2 Pengadegan Purbalingga.
Materi yang ditawarkan oleh panitia waktu itu adalah agar  memberikan materi mengenai dasa dharma pramuka. Dengan jeda waktu yang tidak terlalu lama, karena waktunya sudah mendesak. Penulis berinisiatif untuk menghubungkan nilai-nilai pramuka dan anti korupsi. Hal ini selaras dengan adanya pendidikan anti korupsi yang baru-baru ini dicanangkan oleh pemerintah dari setiap jenjang mulai pendidikan dari pendidikan dini sampai tingkat perguruan tinggi.

Pada awal materi, sekilas dibahas mengenai gerakan pramuka yang diambil dari http://pramuka.or.id/news/sekilas-gerakan-pramuka.php


VISI :  “Gerakan Pramuka sebagai wadah pilihan utama dan solusi handal masalah kaum muda”

MISI :

  1. Mempramukakan kaum muda
  2. Membina anggota yang berjiwa dan berwatak pramuka, berlandaskan iman dan taqwa (Imtaq), serta selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Imteq)
  3. Membentuk kader bangsa patriot pembangunan yang memiliki jiwa bela Negara
  4. Menggerakan anggota dan organisasi Gerakkan Pramuka agar peduli dan tanggap terhadap masalah-masalah kemasyarakatan

Tujuan Kepramukaan

Gerakan Pramuka sebagai penyelenggara pendidikan kepanduan Indonesia yang merupakan bagian pendidikan nasional, bertujuan untuk membina kaum muda dalam mencapai sepenuhnya potensi-potensi spiritual, sosial, intelektual dan fisiknya, agar mereka bisa :
  1. Membentuk, kepribadian dan akhlak mulia kaum muda
  2. Menanamkan semangat kebangsaan, cinta tanah air dan bela negara bagi kaum muda
  3. Meningkatkan keterampilan kaum muda sehingga siap menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat, patriot dan pejuang yang tangguh, serta menjadi calon pemimpin bangsa yang handal pada masa depan.

Prinsip Dasar Kepramukaan

Gerakan Pramuka berlandaskan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut:
  1. Iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam
  3. Peduli terhadap dirinya pribadi
  4. Taat kepada Kode Kehormatan Pramuka
Membaca visi, misi, tujuan, dan prinsip dasar kepramukaan sejalan sekali dengan nilai-nilai antikorupsi seperti yang  telah dikenalkan oleh KPK melalui Buku Dongeng Antikorupsi. Nilai-nilai yang dimaksud, meliputi : kerjasama, keadilan, tanggung jawab, kepedulian, kejujuran, kedisiplinan, keberanian, kegigihan, dan kesederhanaan. 
Banyak kegiatan kepramukaan yang terkait dengan proses pembelajaran antikorupsi. Misalnya belajar kedisiplinan mulai dari tidak terlambat datang ke tempat latihan, mengikuti upacara sampai saat selesai latihan. Melalui interaksi dengan teman-teman dalam  kelompok/regu/sangga, kita juga belajar bekerja sama. Melakukan kejujuran  ketika harus berkompetisi dengan  tim lain misalnya dalam pelaksanaan lomba antar regu.
 Lebih lanjut, mari kita perhatikan bunyi dasa darma pramuka, yaitu :



Pramuka itu :
1.             Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2.             Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
3.             Patriot yang sopan dan ksatria
4.             Patuh dan suka bermusyawarah
5.             Rela Menolong dan tabah
6.             Rajin, terampil dan gembira
7.             Hemat, cermat, dan bersahaja
8.             Disiplin, berani dan setia
9.             Bertanggungjawab dan dapat dipercaya
10.         Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan


Perhatikan kata-kata kunci dari dasa darma tersebut. Kesepuluh dharma tersebut tidak ada satu pun yang bertentangan dengan nilai antikorupsi. Sehingga dapat dikatakan Pramuka dan Antikorupsi bisa dianggap sebagai satu paket. Atau kalau berani mengatakan pramuka jika dipertemukan dengan tindak korupsi pasti akan saling bertentangan.
Berikut contoh tindakan-tindakan yang dapat dilakukan terkait dengan kesepuluh darma di atas :
1.      Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-1, misalnya :
-          Beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing
-          Berbakti kepada orang tua dan guru
2.      indakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-2, misalnya :
-          Menjaga kebersihan lingkungan
-          Menjaga kelestarian alam
-          Membantu fakir miskin
3.      Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-3, misalnya :
-          Melindungi kaum lemah
-          Aktif dalam kegiatan kemasyarakatan
4.      Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-4, misalnya :
-          Melaksanakan tugas dan kewajiban dengan sebaik-baiknya
-          Patuh pada orang tua dan guru
5.   Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-5, misalnya :
-          Menolong tanpa pamrih
-          Peka terhadap musibah
6.     Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-6, misalnya :
-          Tidak membolos
-          Membuat berbagai produk yang berguna
7.      Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-7, misalnya :
-          Tidak boros dan bersikap hidup mewah
-          Bisa membuat perencanaan yang matang
 8.    Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-8, misalnya :
-          Selalu menepati waktu
-          Mendahulukan kewajiban terlebih dahulu daripada hak
9.      Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-9, misalnya :
-          Menjalankan segala tugas dengan sungguh-sungguh
-          Bertanggung jawab dalam setiap tindakan
10.  Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-10, misalnya :
-          Berusaha jujur dalam segala hal
-          Tidak menyusahkan orang lain



Sabtu, 31 Agustus 2013

Soal-Soal Rangkaian Listrik

Soal-Soal Rangkaian Listrik



Setelah mempelajari materi rangkaian listrik, sekarang saatnya mengevaluasi diri-sendiri

Soal-Soal Optik

Soal-Soal Optik



Setelah mempelajari materi optik, sekarang saatnya mengevaluasi diri-sendiri