Rabu, 30 Juli 2014

MENGAPA KURIKULUM 2013?

Tidak ada yang berubah kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan adalah keniscayaan.

belajar riang

Banyak orang yang mendambakan kemapanan. Sehingga ketika ada perubahan, maka reaksi mereka pun bermacam-macam. Sebagian menerima, sebagian menolak, dan sebagian lainnya acuh tak acuh.

Yang menerima pun bermacam-macam jenisnya. Ada yang benar-benar menerima dengan segala konsekwensinya (misalnya dengan belajar banyak hal) ataupun asal menerima. Demikian juga yang menolak, ada yang asal menolak karena tidak menyukai perubahan. Ada juga yang menolak karena merasa apa yang sudah ada masih layak untuk dipakai.

Demikianlah, berbagai tanggapan pro kontra terjadi ketika kurikulum 2013 akan diterapkan.

Dalam tulisan ini, kita akan menelisik ke belakang bagaimana kurikulum di Indonesia terus menerus mengalami perubahan.

(Imas Kurniasih, 2014) membagi kurikulum di Indonesia menjadi 3 kelompok, yaitu rencana pelajaran, kurikulum berbasis tujuan, dan kurikulum berorientasi kompetensi).

1. Kurikulum Rencana Pelajaran (1947 – 1968)

Meliputi kurikulum 1947, 1952, 1964, dan 1968.

2. Kurikulum Berorientasi Pencapaian Tujuan (1975 – 1994)

Meliputi perubahan kurikulum 1975, 1984, dan kurikulum 1994.

3. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004

4. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006

5. Kurikulum 2013

Kalau dihitung, sekurang-kurangnya, sejak kemerdekaan, Indonesia telah mengalami 10 kali perubahan kurikulum. Perubahan-perubahan ini didasarkan pada situasi kondisi berupa tantangan-tantangan yang dihadapi Indonesia saat itu.

Pada kurikulum 1947 (Rencana Pelajaran 1947), tujuannya lebih menekankan kepada pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat.

Pada kurikulum 1952 (Rencana Pelajaran Terurai 1952), harus memperhatikan hal-hal berikut : pendidikan pikiran harus dikurangi, isi pelajaran harus dihubungkan terhadap kesenian, pendidikan watak, pendidikan jasmani serta kewarganegaraan dan masyarakat.

Pada kurikulum 1964 (Rencana Pendidikan 1964), menitikberatkan pada pengembangan cipta rasa, karsa, karya dan moral, yang kemudian dikenal dengan Pancawardhana.

Pada kurikulum 1968, pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila yang sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan ketrampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Pada prinsipnya kelahiran kurikulum ini sangat bersifat politis, yaitu menggantu rencana pendidikan 1964 yang dicitrakan dengan produk orde lama.

Pada kurikulum 1975, untuk pertama kalinya terlihat dengan jelas tujuan pendidikan. Dari tujuan tersebut diuraikan tujuan-tujuan yang akan dicapai seperti tujuan instruksional umum, tujuan instruksional khusus, dan berbagai rincian lainnya.

Pada kurikulum 1984, terjadi penyempurnaan dari kurikulum 1975. Hal yang menonjol pada kurikulum 1984 adalah adanya CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) dan Sistem Spiral. Di sini pembelajaran mulai bergeser dari teacher oriented ke student oriented. Dan dengan sistem spiral, maka semakin tinggi jenjang pendidikannya, materi yang diberikan makin dalam dan detil.

Pada Kurikulum 1994, pembelajaran lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat. Dan dalam pelaksanannya, guru menggunakan strategi yang melibatkan siswa secara aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial.

Pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, mencakup beberapa kompetensi dan seperangkat tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa.

Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, guru dan sekolah lebih memiliki otoritas dalam mengembangkan kurikulum secara bebas dengan memperhatikan karakteristik siswa dan lingkungan di sekolah masing-masing.

Pada kurikulum 2013, menurut Mendikbud, lebih menekankan pada kompetensi berbasis sikap, ketrampilan, dan ketrampilan. Salah satu ciri pada kurikulum ini adalah guru dituntut untuk berpengetahuan sebanyak-banyaknya karena siswa lebih leluasa dalam mengakses berbagai informasi melalui perkembangan ICT/TIK.

Guru sebagai salah satu komponen penting penggerak kurikulum dituntut untuk mampu menerapkannya dalam rencana pembelajaran di kelas-kelas. Tentunya, ada yang siap dan ada yang tidak. Ada yang menerima dan ada yang menolak. Ada yang proaktif dan ada yang reaktif.

Belajar dari sejarah perkembangan kurikulum di atas, dapat disimpulkan bahwa perubahan kurikulum adalah keniscayaan. Tantangan setiap zaman berubah.

Dari dunia luar, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi begitu pesat. Berbagai tayangan lewat media televisi, majalah/surat kabar, internet yang begitu menarik menjadi saingan tersendiri bagi para siswa, ketimbang membaca buku-buku/LKS yang begitu-begitu saja. Untuk itulah sudah saatnya guru, bukan lagi belajar menggunakan komputer tetapi sudah sampai tahap memanfaatkan komputer untuk mendukung pembelajaran. Buatlah konten yang menarik, berupa video, animasi, simulasi, dan konten-konten lain yang sarat multimedia dan interaktif. Nah di sinilah guru dituntut untuk terus belajar. Belajar sepanjang hayat..long life education..bisa menjadi jargon untuk mau dan mampu mengimplementasikan kurikulum 2013.

Demikian juga, adanya tantangan dari dalam pendidikan sendiri. Pendidikan sudah mengalami pergeseran, dari berorientasi guru ke arah berorientasi siswa. Kita sudah belajar tersebut sejak tahun 2004 melalui CBSA sampai sekarang. Tidak lagi saatnya menjadikan diri sebagai guru yang “menakutkan”. Menginginkan kelas yang “sunyi senyap”..kelas yang “tenang”. Dan ini tantangannya. Bagaimana mengembalikan kelas kepada situasi yang membuat siswa senang dan nyaman, sementara pembelajaran yang dilakukan juga bisa mencapai tujuannya.

Masuklah ke dunia anak, baru perkenalkan dunia kita kepada mereka”. Inilah asas dari Quantum Teaching, yang bisa kita gunakan.

Hal ini senada dengan, “Mencoba mengerti dulu baru dimengerti”, sebagai kunci menjalin hubungan, seperti yang dikatakan oleh Stephen R. Covey.

Akhirnya, mari kita sambut kurikulum 2013 dengan terus-menerus memperbaharui diri. Sebuah filosofi Tao yang bagus, yang mengatakan “banyak melakukan tetapi tidak merasa melakukan”.

No losing of hope menyikapi perubahan-perubahan yang seringkapi tidak sesuai keinginan.

Selasa, 29 Juli 2014

GANTI KURIKULUM GANTI BUKU... HARUSKAH?

kimiyohanes

Teringat ketika, saya masih SMP. Waktu itu memasuki kelas 2. Ada seorang guru perempuan yang katanya “killer”, meskipun di sisi lain kami merasa dekat dan merasa sedih ketika beliau pindah sekolah. Beliau cantik tetapi kalah kecantikannnya dengan kegalakannya. Ini menurut saya loh.

Waktu itu ada tugas mengerjakan PR dari buku paket. Tak terbayangkan saya hanya kekurangan 2 soal dari 20 soal, berakibat saya harus mengulangi mengerjakan PR tersebut sebanyak sepuluh kali. Seingat saya ini adalah soal pilihan ganda yang cara mengerjakannya, baik soal maupun jawaban harus ditulis lagi.

Usut punya usut, ternyata buku yang saya pakai adalah buku edisi lama. Sedangkan yang dipakai saat itu adalah buku revisi.

Kedua saat saya SMA. Ceritanya ada tugas meringkas dari buku. Entah perintahnya tidak jelas atau teman-teman yang tidak sempat (baca : agak malas), maka seminggu berikutnya hanya 2 orang yang menyelesaikan ringkasannya. Termasuk saya, yang mendapat nilai 90 dari sebuah ringkasan. Kesamaan dengan cerita “salah buku di SMP” adalah saya masih menggunakan buku edisi lama. Perbedaannya adalah di SMA saya sukses pakai buku edisi lama.

Apa yang menarik dari cerita di atas?

Waktu itu jelas, saya tidak memahami apa itu kurikulum. Tidak pernah guru-guru bercerita, kurikulum apa yang dipakai. Saya masuk SMP pada tahun 1990, berarti saat itu yang dipakai kurikulum 1984. Wajar dalam kurun waktu tersebut buku-buku terus direvisi. Baru ganti buku saya sudah merepotkan, apalagi ganti kurikulum.

Saya ingat betul, bahwa buku-buku yang saya pakai dari awal sekolah (MI), kemudian melanjutkan ke SMP dan SMA lebih banyak menggunakan buku-buku sisa peninggalan kakak saya. Dari yang selisih sekolahnya 10 tahun sampai yang 2 tingkat di atas saya. Dalam banyak hal saya mempunyai bahan bacaan yang berbeda dari teman-teman sekelas. Di sisi lain terasa merepotkan, karena harus juga menyesuaikan dengan referensi yang dipakai saat itu. Hal ini terasa bermasalah ketika pelajaran-pelajaran non eksak. Tambahan sana-sini pada buku revisi harus ditulis, baik di buku saya yang lama maupun dalam catatan.

Penggunaan buku-buku lama tersebut terus berulang. Bahkan sampai mau UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan sampai sekarang jadi guru. Sejak tahun 2004 – 2014, buku-buku kurikulum 1994.

Dan saya tidak menemukan masalah yang berarti, ketika harus memakai buku-buku lama tersebut. Misalnya ketika dulu mengajar di SMA/SMK tahun 2004, saya masih setia dengan buku-buku Olimpiade Fisika-nya Yohanes Surya yang diterbitkan tahun 1996. Olimpiade sendiri singkatan dari TeOri dan Latihan Fisika Menghadapi Masa Depan. Termasuk buku Fisika-nya Nyoman Kertiasa yang diterbitkan pertama kali tahun 1993 oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bahkan seingat saya , buku Fisika waktu saya SMA (karangan Yohanes Surya yang diterbitkan oleh Intan Pariwara tahun 1986) juga masih dipakai.

Demikian juga ketika kurikulum 2004, 2006 dan sekarang kurikulum 2013. Buku-buku edisi lama pun masih bertengger dengan manisnya. Selalu siap menjadi salah satu referensi dalam mengajar.

Mungkin ada yang bertanya..Anda kan guru, bisa mengambil materi dari buku sana-sini. Bagaimana dengan para siswa?

Jawaban saya sederhana.

Apapun kurikulumnya, gurunya tetap. Perubahan apapun dalam kurikulum tidak serta merta mengorbankan apa yang telah dipunya sebelumnya.

Di perpustakaan banyak sekali buku-buku yang menumpuk. Siapa yang akan pakai? Yakinkah kita, kalau siswa-siswa mau meminjam buku-buku lama tersebut, kalau kita sebagai guru tidak mau memakainya. Padahal di banyak hal. Materi-materi di buku-buku terbaru masih banyak yang termuat di buku-buku lama tersebut. Bahkan beberapa isinya jauh lebih lengkap. Hitungannya sederhana. Ketika satu buku (misalnya buku BSE dan buku siswa kurikulum 2013) dipakai untuk 2 semester, yang memuat Fisika, Biologi dan Kimia untuk IPA SMP. Kita bandingkan dengan buku edisi lama, dengan 1 buku memuat 1 semester dan untuk 1 bidang saja (misalnya Fisika), tentunya buku yang lama relatif lebih lengkap isinya.

Dari gambaran tersebut, akan mengurangi anggapan adanya keharusan ganti buku saat ada pergantian kurikulum. Jangan sampai dengan ketersediaan buku-buku oleh pemerintah (dalam bentuk BSE, buku siswa maupun buku guru), membuat kita kehilangan kesempatan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan tambahan karena segan untuk mencari informasi-informasi dari buku-buku lain.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Ketidakpastian dalam Pengukuran

Ketidakpastian dalam Pengukuran


http://matematikbest.blogspot.com/2011/01/apa-itu-ukuran.html

















Kegiatan pengukuran merupakan hal yang biasa dilakukan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dan sebagai makhluk sosial, pengukuran tersebut dilakukan sebagai salah satu bentuk interaksi dengan orang lain. Misalnya kita mau mengecat rumah. Dengan memperhitungkan luas permukaan yang dicat, kita akan menghubungkan antara hitungan yang kita buat dengan takaran cat yang tersedia.
Contoh lain, kita akan membuat meja. Setelah dihitung kita dapat memperkirakan jumlah kayu yang dibutuhkan. Lagi-lagi hal ini pun terkait dengan ukuran kayu yang tersedia.
Bisa bayangkan, jika pengukuran yang kita lakukan berbeda dengan bahan-bahan yang tersedia, maka dipastikan perhitungan kita akan meleset.

Terkait dengan kegiatan pengukuran yang akan kita lakukan, timbul pertanyaan :
1. Bagaimana cara melaporkan hasil pengukuran itu?
2. Apakah jaminan hasil pengukuran itu tidak salah?
3. Jika kurang tepat, berapa simpangannya?
4. Sampai berapa jauh, hasil itu dapat dipercaya?

Dalam fisika dikenal ada dua satuan, yaitu satuan yang baku dan tidak baku. Contoh satuan tidak baku adalah jengkal dan depa. Satuan seperti ini tentunya tidak dapat digunakan dengan baik. Sekali lagi, kegiatan pengukuran akan berguna jika bisa dikomunikasikan dengan orang lain. Meter adalah contoh satuan yang baku. Ketika kita menginginkan kayu sepanjang 3 meter, dan pengukuran itu diberikan pada tukang kayu. Dapat dipastikan kita akan mendapatkan kayu seperti yang kita inginkan. Meskipun, kita kadang sedikit mengeluhkan, karena ada selisih beberapa mili meter. It's no big matter, khan?
WOW, tapi belum tentu ya? Jika perbedaan sekian mili meter, membuat bangun yang kita buat menjadi tidak tepat siku 900.

Menjawab pertanyaan pertama, bagaimana cara melaporkan pengukuran tersebut? Dalam Satuan Internasional (SI), misalnya kita akan melaporkan hasil pengukuran panjang meja sebesar 1,20 cm. Dengan 1,20 menunjukkan hasil pengukuran dan m sebagai satuannya.

Yang menjadi masalah adalah ketika pengukuran diulangi ternyata, diperoleh hasil yang berbeda sedikit, misalnya 1,21 m. Ketika diulangi lagi malah menjadi 1,19 m. Ini belum lagi, jika yang melakukan pengukuran orang lain. Dapat dipastikan hasilnya juga berbeda. Perbedaan hasil ini menjadi dasar adanya ketidakpastian dalam pengukuran.

Apakah penyebab dari ketidakpastian dari pengukuran tersebut? Pertama, yang melakukan pengukuran adalah manusia yang tidak sempurna. Kedua, alat ukur yang digunakan juga buatan manusa, jadinya tidak sempurna juga.

Tapi kita tidak perlu khawatir atau "lebay", dengan menganggap melakukan pengukuran adalah percuma. Toh tidak tepat 100 persen. Padahal di sinilah seninya pengukuran dalam fisika, khususnya. Yang lebih penting dari itu sebenarnya, bagaimana agar pengukuran yang kita lakukan ada toleransi kesalahannya. Artinya ada simpangan yang masih dianggap wajar.
"Pengukuran kok masalah wajar dan tidak wajar?" seseorang dengan sengitnya memprotes, Hehehehe.....menimbang beras 5 kg, kalau diulangi ternyata menjadi 5,5 kg bahkan 6 kg tentunya tidak wajar bukan? Tetapi kalau diulangi menjadi 5,05 kg bahkan 5,000005 kg tentunya tidak kentara..(tapi ngawur kayaknya..timbangan macam apa yang bisa kayak gitu).

Lanjut, berikut ini adalah beberapa jenis ketidakpastian dalam pengukuran yang biasa dijumpai.
Ketidakpastian bersistem
1. Kesalahan kalibrasi
2. Kesalahan titik nol
3. Kelelahan komponen alat
4. Gesekan
5. Paralak
6. Keadaan saat bekerja

Ketidakpastian rambang
1. Gerak Brown molekul udara
2. Fluktuasi pada tegangan jarum listrik
3. Landasan yang bergetar
4. Bising
5. Radiasi latar-belakang

Sudah dulu ya, nanti dilanjutkan lagi agar lebih jelas lagi pembahasan masalah pengukuran.

Sumber bacaan : Djonoputro, B. Darmawan. 1984. Teori Ketidakpastian. Bandung : Penerbit ITB

Kamis, 10 Oktober 2013

Merindukan Kurikulum 2013

Merindukan Kurikulum 2013


Guru yang mengajar hanya dengan metode ceramah atau 
mengandalkan presentasi adalah guru yang dholim.

Kata-kata dari salah satu instruktur pada diklat PLPG beberapa waktu lalu terus menghantui pikiranku. Jujur saja selama ini, saya belum "ngeh", dengan adanya kurikulum 2013. Pertama, karena sekolah tempatku mengajar belum melaksanakan. Kedua, kurang pekanya diri saya terhadap perkembangan dunia pendidikan di Indonesia.

Tetapi, setelah mendengar kata-kata tersebut, sontak kesadaranku bangkit (moga-moga selamanya..hehehehe). Aku mengaca pada diriku sendiri, yang selama ini sudah merasa cukup dengan mengajar pakai gaya sendiri. Yang penting aku enjoy dan siswa bisa menikmati. 
Ternyata itu tidak cukup. Buktinya apa?

Kita bisa melihat output dari siswa kita, apakah sudah memiliki karakter yang baik. Disiplin, santun, jujur, obyektif, menghargai orang lain dan sebagainya. Inisiatif, kreatif, inovatif, dan nilai-nilai karakter lain sudahkah terbentuk?

Dulu ketika saya mengajar, satu hal yang sering kukatakan pada siswa. 
"Nak, mengajar fisika itu gampang. 
Tetapi, membuat kamu belajar tanpa diperintah itu yang sulit."
Selalu dan selalu itu yang kukatakan. 
Ternyata hal itu tidak cukup.

Perlu adanya aksi nyata dalam melaksanakan pembelajaran, salah satunya dengan mulai menerapkan kurikulum 2013. Perubahan-perubahan yang nampak pada standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses maupun standar penilaian perlulah dicermati sehingga target pelaksanaan kurikulum ini akan tercapai.

Kompetensi lulusan dari jenjang SD, SMP, SMA, SMK bisa kita lihat ternyata sama, yaitu adanya peningkatan dan keseimbangan  soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. 

Kedudukan mata pelajaran (ISI), yaitu kompetensi yang semula diturunkan dari mata pelajaran berubah menjadi mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi. Kompetensi dikembangkan melalui: Tematik terpadu dalam semua mata pelajaran (SD), mata pelajaran (SMP, SMA) dan vokasinal (SMK).

Dalam proses pembelajaran :
  • Standar Proses yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi  dilengkapi dengan mengamati, menanya, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta.
  • Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di  lingkungan sekolah  dan masyarakat 
  • Guru bukan satu-satunya sumber belajar.
  • Sikap tidak diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan
Dalam penilaian pembelajaran :
  • Penilaian berbasis kompetensi
  • Pergeseran dari penilaian melalui tes [mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja], menuju penilaian otentik [mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil]
  • Memperkuat PAP (Penilaian Acuan Patokan) yaitu pencapaian hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperolehnya terhadap skor ideal (maksimal)
  • Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga kompetensi inti dan SKL
  • Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama
    penilaian 
Dalam pelaksanaan pembelajaran digunakan pendekatan saintifik dan kontekstual melalu kegiatan : observing (mengamati), questioning (menanya),    associating (menalar), experimenting (mencoba), dan networking (Membentuk jejaring). Demikian juga dalam proses penilaian menggunakan penilain otentik, yaitu : penilaian berbasis portofolio, pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tunggal, memberi nilai bagi jawaban nyeleneh, menilai proses pengerjaannya bukan hanya hasilnya, penilaian spontanitas/ekspresif, dan lain-lain.


Model pembelajaran yang diterapkan mengacu pada teori konstruktivisme, yang memandang  bahwa  ilmu  pengetahuan  harus  dibangun  oleh    siswa. Dalam   hal   ini   siswalah  yang  membangun  dan   menemukan sendiri pengetahuannya. Model pembelajaran yang dimaksud meliputi  discovery learning (pembelajaran penemuan), problem based learning (pembelajaran berbasis masalah), dan project based learning (pembelajaran berbasis proyek).

Dengan menerapkan kurikulum 2013, diharapkan tidak terjadi lagi pembelajaran yang dholim lagi. Kesemuanya mengarah kepada kompetensi religiusitas sebagai kompetensi pertama dan tujuan dari pendidikan.



Selasa, 03 September 2013

PRAMUKA DAN ANTI KORUPSI

PRAMUKA DAN ANTI KORUPSI

Pada tanggal 31 Agustus 2013, penulis mendapat kesempatan untuk mengisi materi Persami bagi siswa baru SMP Negeri 2 Pengadegan Purbalingga.
Materi yang ditawarkan oleh panitia waktu itu adalah agar  memberikan materi mengenai dasa dharma pramuka. Dengan jeda waktu yang tidak terlalu lama, karena waktunya sudah mendesak. Penulis berinisiatif untuk menghubungkan nilai-nilai pramuka dan anti korupsi. Hal ini selaras dengan adanya pendidikan anti korupsi yang baru-baru ini dicanangkan oleh pemerintah dari setiap jenjang mulai pendidikan dari pendidikan dini sampai tingkat perguruan tinggi.

Pada awal materi, sekilas dibahas mengenai gerakan pramuka yang diambil dari http://pramuka.or.id/news/sekilas-gerakan-pramuka.php


VISI :  “Gerakan Pramuka sebagai wadah pilihan utama dan solusi handal masalah kaum muda”

MISI :

  1. Mempramukakan kaum muda
  2. Membina anggota yang berjiwa dan berwatak pramuka, berlandaskan iman dan taqwa (Imtaq), serta selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Imteq)
  3. Membentuk kader bangsa patriot pembangunan yang memiliki jiwa bela Negara
  4. Menggerakan anggota dan organisasi Gerakkan Pramuka agar peduli dan tanggap terhadap masalah-masalah kemasyarakatan

Tujuan Kepramukaan

Gerakan Pramuka sebagai penyelenggara pendidikan kepanduan Indonesia yang merupakan bagian pendidikan nasional, bertujuan untuk membina kaum muda dalam mencapai sepenuhnya potensi-potensi spiritual, sosial, intelektual dan fisiknya, agar mereka bisa :
  1. Membentuk, kepribadian dan akhlak mulia kaum muda
  2. Menanamkan semangat kebangsaan, cinta tanah air dan bela negara bagi kaum muda
  3. Meningkatkan keterampilan kaum muda sehingga siap menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat, patriot dan pejuang yang tangguh, serta menjadi calon pemimpin bangsa yang handal pada masa depan.

Prinsip Dasar Kepramukaan

Gerakan Pramuka berlandaskan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut:
  1. Iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam
  3. Peduli terhadap dirinya pribadi
  4. Taat kepada Kode Kehormatan Pramuka
Membaca visi, misi, tujuan, dan prinsip dasar kepramukaan sejalan sekali dengan nilai-nilai antikorupsi seperti yang  telah dikenalkan oleh KPK melalui Buku Dongeng Antikorupsi. Nilai-nilai yang dimaksud, meliputi : kerjasama, keadilan, tanggung jawab, kepedulian, kejujuran, kedisiplinan, keberanian, kegigihan, dan kesederhanaan. 
Banyak kegiatan kepramukaan yang terkait dengan proses pembelajaran antikorupsi. Misalnya belajar kedisiplinan mulai dari tidak terlambat datang ke tempat latihan, mengikuti upacara sampai saat selesai latihan. Melalui interaksi dengan teman-teman dalam  kelompok/regu/sangga, kita juga belajar bekerja sama. Melakukan kejujuran  ketika harus berkompetisi dengan  tim lain misalnya dalam pelaksanaan lomba antar regu.
 Lebih lanjut, mari kita perhatikan bunyi dasa darma pramuka, yaitu :



Pramuka itu :
1.             Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2.             Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
3.             Patriot yang sopan dan ksatria
4.             Patuh dan suka bermusyawarah
5.             Rela Menolong dan tabah
6.             Rajin, terampil dan gembira
7.             Hemat, cermat, dan bersahaja
8.             Disiplin, berani dan setia
9.             Bertanggungjawab dan dapat dipercaya
10.         Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan


Perhatikan kata-kata kunci dari dasa darma tersebut. Kesepuluh dharma tersebut tidak ada satu pun yang bertentangan dengan nilai antikorupsi. Sehingga dapat dikatakan Pramuka dan Antikorupsi bisa dianggap sebagai satu paket. Atau kalau berani mengatakan pramuka jika dipertemukan dengan tindak korupsi pasti akan saling bertentangan.
Berikut contoh tindakan-tindakan yang dapat dilakukan terkait dengan kesepuluh darma di atas :
1.      Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-1, misalnya :
-          Beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing
-          Berbakti kepada orang tua dan guru
2.      indakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-2, misalnya :
-          Menjaga kebersihan lingkungan
-          Menjaga kelestarian alam
-          Membantu fakir miskin
3.      Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-3, misalnya :
-          Melindungi kaum lemah
-          Aktif dalam kegiatan kemasyarakatan
4.      Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-4, misalnya :
-          Melaksanakan tugas dan kewajiban dengan sebaik-baiknya
-          Patuh pada orang tua dan guru
5.   Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-5, misalnya :
-          Menolong tanpa pamrih
-          Peka terhadap musibah
6.     Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-6, misalnya :
-          Tidak membolos
-          Membuat berbagai produk yang berguna
7.      Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-7, misalnya :
-          Tidak boros dan bersikap hidup mewah
-          Bisa membuat perencanaan yang matang
 8.    Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-8, misalnya :
-          Selalu menepati waktu
-          Mendahulukan kewajiban terlebih dahulu daripada hak
9.      Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-9, misalnya :
-          Menjalankan segala tugas dengan sungguh-sungguh
-          Bertanggung jawab dalam setiap tindakan
10.  Tindakan-tindakan yang sesuai dengan darma ke-10, misalnya :
-          Berusaha jujur dalam segala hal
-          Tidak menyusahkan orang lain